Selasa, 22 September 2026
Opini3 menit baca2026-09-19890 pembaca

Menggugat Hiruk-Pikuk Kota: Mengapa Generasi Muda Rindu Kesederhanaan?

Di balik gemerlap kafe artisan dan deru notifikasi ponsel, tersimpan kelelahan kolektif warga urban. Tren *slow living* bukan lagi sekadar pelarian sesaat, melainkan bentuk perlawanan terhadap glorifikasi jam kerja berlebih.

Menggugat Hiruk-Pikuk Kota: Mengapa Generasi Muda Rindu Kesederhanaan?
Bagikan:

Jam menunjukkan pukul 21.00 di sebuah stasiun transit Jakarta. Ribuan wajah tampak menatap layar gawai mereka yang menyala dingin di tengah sesaknya gerbong kereta komuter. Tidak ada obrolan hangat, hanya denting notifikasi surel kantor yang masih meminta revisi dokumen.

Fenomena hustle culture yang diagung-agungkan sedekade lalu perlahan mulai kehilangan pesonanya. Generasi muda yang sempat terjebak dalam perlombaan status sosial dan akumulasi materi mulai mempertanyakan esensi dari rutinitas yang mereka jalani.

"Kita diajarkan untuk selalu berlari lebih cepat, tapi jarang sekali ditanya mau ke mana kita sebenarnya berlari," ungkap Rara (29), seorang desainer produk digital yang memutuskan pindah ke kota kecil di Jawa Tengah untuk berkebun dan bekerja paruh waktu.

Kebutuhan akan ketenangan batin, interaksi komunal yang tulus, dan koneksi kembali dengan alam kini bertransformasi menjadi gelombang baru. Kesederhanaan bukan berarti tertinggal, melainkan keberanian untuk memilih apa yang sungguh-sungguh berarti bagi kelangsungan hidup jiwa.

Bagikan:
Tentang Penulis

Siti Rahmawati

Jurnalis yang berfokus pada reportase naratif, isu-isu sosial kemanusiaan, dan kebudayaan. Berkomitmen menghadirkan kisah berimbang dari akar rumput.

Artikel Terkait Lainnya

test
Narasi
4 menit baca2026-09-21

test

test

Ahmad Putra Firdaus
Ahmad Putra Firdaus
Kontributor