Sabtu, 3 Oktober 2026
Narasi4 menit baca•2026-10-03•0 pembaca

Implementasi HAM Dalam Sistem Hukum Indonesia

Resume Jurnal Berdasarkan Jurnal Kajian Ilmiah Multidisipliner, Vol. 10 No. 5, Mei 2026 Tentang IPLEMENTASI HAK ASASI MANUSIA DALAM SISTEM HUKUM INDONESIA, Utia Ulan Dari & Fasa Ranel

Implementasi HAM Dalam Sistem Hukum Indonesia
Bagikan:

RESUME JURNAL IMPLEMENTASI HAK ASASI MANUSIA DALAM SISTEM HUKUM INDONESIA Utia Ulan Dari & Fasa Ranel Jurnal Kajian Ilmiah Multidisipliner, Vol. 10 No. 5, Mei 2026

Hak Asasi Manusia (HAM) merupakan hak dasar yang melekat pada setiap manusia sejak lahir dan bersifat universal. Negara mempunyai kewajiban untuk menghormati, melindungi, dan memenuhi HAM setiap warga negara. Dalam konteks Indonesia, jaminan HAM telah memperoleh landasan konstitusional melalui Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, terutama setelah amandemen, serta melalui Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia dan berbagai peraturan lainnya. Dengan demikian, secara normatif Indonesia telah mempunyai perangkat hukum yang menjadi dasar perlindungan HAM. Namun, penelitian menunjukkan masih terdapat kesenjangan antara norma hukum dengan pelaksanaannya di lapangan. Penelitian bertujuan menganalisis implementasi HAM dalam sistem hukum nasional Indonesia, mengidentifikasi kendala yang dihadapi, serta mengkaji upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan perlindungan HAM. Metode yang digunakan adalah penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan konseptual. Bahan yang dikaji meliputi bahan hukum primer, sekunder, dan tersier, sedangkan pengumpulan bahan dilakukan melalui studi kepustakaan dan dianalisis secara kualitatif. Kerangka tersebut digunakan untuk melihat hubungan antara keberadaan norma HAM dalam sistem hukum dengan kondisi implementasinya dalam praktik. Secara konseptual, HAM tidak bergantung pada status sosial maupun kedudukan seseorang. Ruang lingkupnya meliputi antara lain hak hidup, perlindungan dari penyiksaan, kebebasan beragama, pengakuan di hadapan hukum, kebebasan berpendapat, serta hak atas keadilan. Jurnal membahas lima prinsip utama HAM, yaitu universalitas, martabat manusia, kesetaraan, indivisibilitas, dan non-diskriminasi. Prinsip indivisibilitas menegaskan bahwa hak-hak manusia harus dipandang sebagai satu kesatuan, sehingga pemenuhan satu hak tidak semestinya mengabaikan hak lainnya. Sementara itu, prinsip non-diskriminasi menghendaki setiap individu memperoleh perlakuan yang adil tanpa membedakan latar belakang tertentu. Persoalan utama yang ditemukan berada pada aspek implementasi dan penegakan hukum. Meskipun perangkat hukum HAM relatif lengkap, masih terdapat persoalan berupa belum tuntasnya sejumlah kasus HAM berat masa lalu, diskriminasi dalam sebagian regulasi daerah, keterbatasan pemulihan hak korban, lemahnya independensi aparat, kurangnya komitmen politik, serta tumpang tindih kewenangan antar-lembaga. Jurnal juga membahas tantangan kontemporer berupa kebebasan berekspresi di ruang digital, ujaran kebencian, disinformasi, privasi, pengawasan digital, serta perlindungan hak kelompok minoritas, perempuan, anak, dan pekerja migran. Tabel dalam jurnal mencatat sekitar 2.000–2.600 laporan kasus HAM umum per tahun, 17 kasus HAM berat, 12 kasus HAM berat yang disebut belum tuntas, sementara kasus yang diproses ke pengadilan disebut hanya sebagian kecil. Perlindungan HAM membutuhkan perbaikan penegakan hukum sekaligus peningkatan kesadaran masyarakat dan kapasitas kelembagaan. Jurnal menyarankan revisi dan penyempurnaan produk hukum yang tidak sejalan dengan prinsip HAM, peningkatan kapasitas lembaga peradilan dan lembaga terkait, pendidikan serta sosialisasi HAM kepada masyarakat, dan kerja sama lintas sektor. Penguatan lembaga seperti Komnas HAM, Komnas Perempuan, dan LPSK juga dipandang penting dalam pemantauan, perlindungan korban, dan tindak lanjut persoalan HAM. Kesimpulannya, Indonesia telah memiliki fondasi hukum HAM yang kuat, tetapi efektivitas perlindungannya masih bergantung pada konsistensi implementasi, kualitas penegakan hukum, kesadaran masyarakat, serta kapasitas lembaga terkait. Sumber: Utia Ulan Dari & Fasa Ranel, “Implementasi Hak Asasi Manusia dalam Sistem Hukum Indonesia”, Jurnal Kajian Ilmiah Multidisipliner, Vol. 10 No. 5, Mei 2026.

Bagikan:
Yudi Karya
Tentang Penulis

Yudi Karya

Jurnalis yang berfokus pada reportase naratif, isu-isu sosial kemanusiaan, dan kebudayaan. Berkomitmen menghadirkan kisah berimbang dari akar rumput.

Artikel Terkait Lainnya

Korupsi Sebagai Penyalahgunaan Kekuasaan Untuk Keuntungan Pribadi Dalam Birokrasi Publik
Narasi
4 menit baca•2026-10-03

Korupsi Sebagai Penyalahgunaan Kekuasaan Untuk Keuntungan Pribadi Dalam Birokrasi Publik

Resume Jurnal Berdasarkan KORUPSI SEBAGAI PENYALAHGUNAAN KEKUASAAN UNTUK KEUNTUNGAN PRIBADI DALAM BIROKRASI PUBLIK: ANALISIS DAMPAKNYA TERHADAP KUALITAS PELAYANAN PUBLIK DI INDONESIA Sri Yulianty Mozin, Alfiyah Agussalim, Aldina Sakira, Marshanda Putri Rahmawati, Dina Alifia Jasmine, Moh Tegar Pratama Bito, Deron Rivaldo Suluh, dan Indah Purnamasari Hapulu Jurnal Riset Sosial Humaniora dan Pendidikan, Vol. 4 No. 3, Mei 2026, hlm. 257–274

Kayla Nur Aisyah Achmad
Kayla Nur Aisyah Achmad
Research
Catatan Kritis Satu Tahun Pemerintahan Prabowo Gibran
Investigasi
4 menit baca•2026-10-03

Catatan Kritis Satu Tahun Pemerintahan Prabowo Gibran

Dokumen Catatan Kritis Satu Tahun Pemerintahan Prabowo menempatkan satu tahun pemerintahan Prabowo–Gibran dalam perspektif demokrasi, lingkungan hidup, tata kelola sumber daya alam, dan keselamatan rakyat. WALHI menggambarkan sejumlah kebijakan pemerintah sebagai kelanjutan dari pola pembangunan yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi dan eksploitasi sumber daya alam. Beberapa isu utama yang menjadi sorotan adalah target pertumbuhan ekonomi 8 persen, pembengkakan kabinet, kebijakan pangan melalui Makan Bergizi Gratis (MBG) dan food estate, perluasan peran militer dalam pengelolaan SDA, penertiban kawasan hutan dan sawit, revisi UU Minerba, kebijakan energi, regresi demokrasi, perlindungan pembela HAM dan lingkungan, komitmen iklim, serta respons terhadap bencana ekologis. Sejak bagian awal, dokumen menilai bahwa penguatan peran militer di ruang sipil, kebijakan ekstraktif, dan lemahnya perlindungan lingkungan menjadi kecenderungan penting selama satu tahun pemerintahan.

Genta Renangga
Genta Renangga
Kontributor